Skip to content

3. Partikel "は"

Pelajaran 3: Rahasia partikel "WA" yang tak pernah diajarkan di sekolah. Bagaimana "WA" dapat menentukan keberhasilan atau kegagalan kemampuan bahasa Jepang Anda

こんにちは。

Selamat datang di Pelajaran 3. Beberapa dari kamu yang mungkin sudah pernah belajar bahasa Jepang sebelumnya, pasti bertanya-tanya: bagaimana bisa saya menyelesaikan dua pelajaran penuh tanpa sekalipun menggunakan, atau bahkan menyebut, partikel "は" (yang selalu dibaca sebagai "wa")?

Saya sangat menyadari bahwa kebanyakan kursus di luar sana selalu memperkenalkan "は" sejak hari pertama. Mereka langsung mencekokimu dengan kalimat seperti わたしはアメリカ人だ atau ペンはあおい. Ini sebenarnya adalah ide yang sangat buruk. Cara mengajar seperti ini hanya akan membuatmu kebingungan mengenai apa sebenarnya fungsi utama dari partikel-partikel tersebut dalam membentuk struktur logika kalimat.

Namun sekarang, fondasimu sudah cukup kuat. Kita sudah siap untuk mempelajari partikel "は", mengetahui apa fungsi sebenarnya, dan—yang tak kalah penting—mengetahui apa yang bukan fungsinya.

Fakta paling penting: Partikel "は" tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari inti kalimat. Ia tidak akan pernah bisa menjadi salah satu dari gerbong hitam penyusun kereta, baik itu gerbong utama A (subjek/hal yang dibicarakan) maupun engine B (hal yang dilakukan/predikat).

Partikel ini juga tidak bisa menjadi gerbong putih. Kenapa? Karena gerbong putih (seperti gerbong "を" yang baru kita pelajari) masih merupakan bagian dari struktur logis kalimat.

Sebuah kata benda yang ditandai dengan は tidak pernah menjadi bagian dari struktur logis kalimat. Singkatnya, は adalah partikel non-logis.

Jadi, jika "は" bukan gerbong hitam dan juga bukan gerbong putih, lalu gerbong jenis apakah dia? Jawabannya: "は" sama sekali bukan sebuah gerbong. Secara visual, sebuah kata benda yang ditandai dengan "は" akan terlihat seperti ini…

Benar sekali, itu adalah sebuah bendera. Kenapa kita menggambarkannya sebagai bendera? Karena seperti itulah fungsi は bekerja. Ia bertugas memegang bendera penanda untuk mendeklarasikan topik dari sebuah kalimat. Ingat, ia hanya menyorot topiknya, tanpa menjelaskan apa pun tentang topik tersebut. Memberikan penjelasan adalah tugas dari struktur kalimat logis di belakangnya.

Beberapa buku teks yang lumayan bagus biasanya akan memberitahumu bahwa kalimat seperti わたしはアメリカ人だ secara harfiah berarti As for me, I am an American (Adapun mengenai saya, saya adalah orang Amerika). Penjelasan ini sebenarnya 100% benar. Masalahnya, buku-buku teks itu sering kali tidak konsisten dengan logika yang mereka buat sendiri. Andai saja mereka konsisten, pelajar bahasa Jepang tidak akan pernah kebingungan.

Mari kita bedah logikanya: わたし/私は berarti as for me (adapun mengenai saya). アメリカ人だ berarti =American atau am American (adalah orang Amerika).

Jika kita gabungkan, kamu bisa melihat ada elemen krusial yang hilang dari struktur tersebut. Kita tidak bisa mengatakan as for me, am American. Ingat aturan emas kita: kita tidak bisa membangun sebuah kalimat tanpa adanya subjek (Gerbong A), yaitu subjek pelaku yang wajib ditandai dengan partikel "が".

Jadi, agar kalimat ini masuk akal dan strukturnya utuh, kita harus memasukkan subjek tak terlihat (Gerbong A) ke dalamnya.

私は(**zeroが)**アメリカ人だAs for me, (**I)** am an American.

Sampai di sini, beberapa dari kamu mungkin mulai protes, "Aduh, bukankah ini bikin semuanya jadi terlalu rumit? Nggak bisakah kita pura-pura aja kalau わたしは itu berfungsi sebagai subjek utama kalimatnya?"

Jawaban saya adalah: TIDAK BISA.

Meskipun "pura-pura" begitu terasa masuk akal untuk kasus kalimat ini, logika tersebut tidak akan bertahan lama dan akan langsung hancur ketika dihadapkan pada jenis kalimat yang lain. Inilah alasan kenapa kita tidak boleh "menghalalkan" kebiasaan tersebut.

Mari kita ambil satu contoh klasik. Ada sebuah lelucon lama di kalangan pelajar bahasa Jepang, dan lelucon ini lahir semata-mata karena cara pengajaran bahasa Jepang di sekolah yang berantakan.

Ceritanya, ada sekelompok orang sedang berada di restoran. Mereka sedang berdiskusi ingin memesan apa, lalu seseorang dengan mantap berseru: わたしはうなぎだ. Unagi (うなぎ) berarti belut. Leluconnya adalah, karena orang ini diajari bahwa sama dengan subjek (I am), maka ia secara tidak langsung meneriakkan, I am an eel (Saya adalah seekor belut!).

Logikanya begini: Jika わたしはアメリカ人だ diartikan sebagai I am an American, maka secara hukum alam わたしはうなぎだ pasti berarti I am an eel. Logika tersebut tidak terbantahkan, KECUALI kita kembali ke aturan awal kita: わたしはアメリカ人だ TIDAK berarti I am an American. Arti sebenarnya adalah As for me, I am an American (Adapun mengenai saya, saya adalah orang Amerika).

Seperti yang sudah kita pelajari di Pelajaran 2, nilai dasar (default value) dari subjek tak terlihat (zero が) biasanya memang merujuk pada 私/わたし (Saya). Tapi itu bukan satu-satunya nilai mutlaknya. Nilainya akan selalu berubah bergantung pada konteks pembicaraan.


Dalam kalimat わたしはアメリカ人だ (As for me, I am an American), nilai dari subjek tak terlihat tersebut kebetulan memang merujuk pada 私/わたし (Saya).

Namun dalam kasus restoran tadi: わたしはうなぎだ, yang struktur utuhnya adalah わたしは(**zeroが)**うなぎだ, nilai dari subjek "zero" bukanlah (Saya). Nilai dari subjek "zero" di sini adalah it. Dan apa yang dimaksud it dalam konteks ini? It adalah topik yang sedang mereka diskusikan: yaitu makanan apa yang akan mereka pesan malam itu. Jadi, terjemahan logisnya adalah: As for me, it (my order) is eel (Adapun untukku, pesananku adalah belut).

Konsep bendera ini akan sangat memengaruhi caramu merakit berbagai jenis kalimat seiring kemajuan kemampuan bahasa Jepangmu. Jadi sekarang, mari kita ambil satu gerbong baru lagi, kita pelajari fungsinya, lalu kita lihat bagaimana gerbong ini bisa bekerja sama dengan si bendera "は".

Gerbong yang akan kita perkenalkan hari ini adalah gerbong berwarna putih, yaitu gerbong "に" (ni). Gerbong ini biasanya beroperasi sebagai semacam formasi trio bersama partikel "が" (ga) dan "を" (o).

Dalam pola kalimat A does B (A melakukan B):

  • が memberi tahu kita siapa pelaku tindakannya.
  • を memberi tahu kita apa objek tindakannya.
  • に memberi tahu kita sasaran akhir / tujuan dari tindakan tersebut. Tentu saja, kita tidak selalu harus menggunakan を, dan kita juga tidak selalu harus menggunakan に di setiap kalimat.

Mari kita bedah kalimat ini: わたしがボールをなげる (ボール = bola ; なげる = melempar). Jadi, kalimat ini berarti I throw a ball (Saya melempar bola).

Kalimat intinya (gerbong hitamnya) adalah I throw (わたしがなげる). Kemudian, gerbong putih memberikan informasi tambahan mengenai apa yang saya lempar, yaitu sebuah bola (ボールを).

Sekarang, coba kita modifikasi menjadi: わたしがボールをさくらになげる. Ini berarti I throw a ball at Sakura (Saya melempar bola ke arah Sakura). Gerbong Sakura (さくらに) berfungsi sebagai tujuan atau sasaran akhir dari lemparan saya.

Satu hal yang sangat penting untuk kamu catat di sini: Partikel logis-lah (が, を, dan に) yang menentukan siapa melakukan apa dalam sebuah kejadian. Dalam bahasa Jepang, urutan letak kata sama sekali tidak penting, berbeda dengan bahasa Inggris atau Indonesia. Selama Partikel logisnya menempel di tempat yang benar, makna kalimatnya tidak akan berubah.

Misalnya, kalau saya memutar urutannya jadi seperti ini: わたしにさくらがボールをなげる. Artinya berubah total menjadi: Sakura throws the ball at me (Sakura melempar bola ke arah saya). Si pelaku berubah jadi Sakura (karena memegang が), dan saya berubah jadi sasaran lemparan (karena memegang に).

Bagaimana kalau saya nekat membuat urutan seperti ini: ボールがわたしにさくらをなげる? Artinya akan menjadi sangat absurd: The ball throws Sakura at me (Bola itu melemparkan Sakura ke arah saya). Memang tidak masuk akal di dunia nyata, tapi kalau kamu mau menuliskannya di novel fantasi, kalimat itu 100% sah secara tata bahasa.

Kesimpulannya: kamu bisa menyusun kata dengan urutan sebebas apa pun dalam bahasa Jepang, asalkan tempelan partikel logisnya tepat. Nah, sekarang mari kita tancapkan bendera "は" ke dalam kalimat tadi: わたし**は**さくらにボールをなげる. Secara struktur, kalimat ini berbunyi: わたし**は**(zeroが)さくらにボールをなげる. Sesuai hukum bendera penanda yang kita pelajari, kalimat ini berarti: As for me, I throw the ball at Sakura (Adapun tentangku, aku melempar bola ke arah Sakura).

Sekarang, mari kita cabut bendera "は" dari 'saya' dan menancapkannya pada bola: ボールは私がさくらに**(zeroを)**なげる. Karena bendera sorotannya pindah, makna kalimatnya pun ikut menyesuaikan: As for the ball, I throw it at Sakura (Adapun tentang bola itu, aku melemparkannya ke arah Sakura).

Hal terpenting yang wajib kamu perhatikan dari demonstrasi ini adalah: Ketika kita memindahkan Partikel logis (が/を/に) dari satu kata benda ke benda lain, kita secara otomatis merombak total jalan cerita kejadian tersebut (siapa melakukan apa).

TETAPI, ketika kita memindahkan Partikel non-logis "は" dari satu benda ke benda lain (seperti memindahkannya dari 'saya' ke 'bola'), logika jalan cerita kejadiannya sama sekali tidak berubah. Memindahkan は hanya mengubah PENEKANAN TOPIK. Sekarang sorotan kameranya tertuju pada bola, as for the ball...


Kejadian yang menimpa bola tersebut tetaplah kejadian di mana saya melemparkannya ke arah Sakura. Siapa pelakunya, benda apa yang dipakai, dan siapa sasarannya, tidak ada satu pun elemen logika yang bergeser ketika kamu sekadar memindahkan bendera "は". Itulah perbedaan paling fundamental dan krusial antara Partikel Logis dan Partikel Non-logis dalam bahasa Jepang.

Created by Kellen | Indonesian translation by DeepL