1. Jenis-Jenis Kalimat Dasar
Hal paling mendasar tentang bahasa Jepang adalah kalimat intinya. Setiap kalimat bahasa Jepang pada dasarnya memiliki inti logika yang sama. Seperti apa bentuknya? Mari kita lihat.
Mari kita bayangkan ini sebagai sebuah Kereta Kalimat. Setiap kalimat bahasa Jepang memiliki dua elemen ini: gerbong utama (A) dan engine (B). Engine adalah bagian yang menggerakkan kalimat, yang membuatnya berfungsi. Gerbong juga harus ada, karena tanpa gerbong, tidak ada yang bisa digerakkan oleh engine. Kedua hal inilah yang menjadi inti dari setiap kalimat bahasa Jepang.
Kita bisa menambahkan penjelasan lebih lanjut tentang A; kita juga bisa menjelaskan lebih detail tentang B; dan kita bisa menggabungkan kalimat-kalimat logis ini untuk membentuk kalimat yang kompleks. Namun, setiap kalimat dalam bahasa Jepang pasti selalu mengikuti pola dasar ini.
Jadi, apa itu A dan B? Mari kita mulai dengan mengingat kembali bahwa dalam bahasa apa pun, pada dasarnya hanya ada dua jenis kalimat: kalimat A is B dan kalimat A does B. Contoh dari kalimat A does B adalah Sakura walks. Sedangkan contoh dari kalimat A is B adalah Sakura is Japanese.
Kita bisa mengubahnya menjadi bentuk lampau; mengubahnya menjadi bentuk negatif; menjadikannya kalimat tanya; atau menambahkan lebih banyak detail pada A maupun B. Namun, pada akhirnya, setiap kalimat akan berujung pada salah satu dari dua pola dasar ini: kalimat A is B atau kalimat A does B.
Sekarang, mari kita lihat bagaimana cara kerjanya di dalam bahasa Jepang.
Kalimat kata kerja
Dalam bahasa Jepang, jika kita ingin mengatakan Sakura walks (A melakukan B: Sakura berjalan), maka Sakura (A) posisinya adalah sebagai gerbong utama, dan berjalan (B) adalah hal yang dilakukannya, alias sebagai engine dari kalimat tersebut.

Berjalan dalam bahasa Jepang adalah あるく. Namun, kita membutuhkan satu komponen lagi untuk merakit kalimat inti ini, dan が (ga) adalah kunci dari setiap kalimat.
"が" adalah pusat dari seluruh tata bahasa Jepang. Setiap kalimat bahasa Jepang selalu berputar mengelilingi が. Walaupun di beberapa kalimat, wujud "が" ini mungkin tidak terlihat, ia sebenarnya selalu ada dan selalu melakukan tugas yang sama. Tugasnya adalah menghubungkan A dan B untuk membentuk sebuah kalimat yang utuh. Jadi, inti dari kalimat A does B ini adalah さくらがあるく = Sakura walks.
Kalimat kopula
Sekarang mari kita ambil contoh kalimat A is B: Sakura is Japanese (atau bisa dibilang, Sakura is a Japanese person). Di sini, A kembali diisi oleh Sakura, dan B adalah にほんじん / 日本人 (orang Jepang). Sekali lagi, kita membutuhkan が untuk menghubungkan keduanya. Jadi, kita akan membayangkan gerbong A sebagai gerbong utama dengan が bertengger di atasnya. Ingat, gerbong utama adalah subjek kalimat yang selalu membawa が agar bisa tersambung dengan engine.
Jadi, susunan sementaranya adalah さくらが日本人... tapi tunggu, kita butuh satu hal lagi. Ada satu elemen penting yang harus kamu pelajari, yaitu だ (da). さくらが日本人だ = Sakura is a Japanese person.

Mungkin sebelumnya kamu pernah melihat だ dalam bentuk yang lebih sopan, yaitu です. Tapi, ada alasan kuat kenapa kita wajib mempelajari bentuk dasarnya yang lugas ini terlebih dahulu. Coba kamu perhatikan huruf だ, bentuknya mirip tanda sama dengan (=) yang diberi kotak penutup di sebelah kirinya. Ini adalah cara mengingat (mnemonik) yang sempurna untuk menjelaskan fungsinya, karena だ bertugas memberi tahu kita bahwa A = B.
Lalu, kenapa kotaknya ada di sebelah kiri? Karena aturan ini hanya berlaku satu arah (dari kiri ke kanan). Coba pikirkan secara logis: さくらが日本人だ berarti Sakura = Japanese person. Tapi logika ini tidak berlaku sebaliknya. Orang Jepang itu bukan Sakura—karena tidak semua orang Jepang bernama Sakura. Sakura adalah orang Jepang, tapi orang Jepang belum tentu Sakura.
Kalimat kata sifat
Sejauh ini kita sudah punya kalimat A is B dan kalimat A does B. Ternyata, masih ada satu bentuk kalimat inti lagi (karena totalnya ada tiga). Bentuk yang ketiga ini muncul ketika kita menggunakan kata sifat.
Dalam bahasa Jepang, kata sifat biasanya berakhiran い (i), fungsinya mirip dengan bahasa Inggris yang sering menggunakan akhiran "y" (happy, sunny, cloudy, silly). Di bahasa Jepang pun polanya serupa: happy = うれしい / 嬉しい; sad = かなしい / 悲しい; blue = あおい / 青い.
Kamu tidak perlu menghafal semua kosakata ini sekarang. Yang penting kamu tahu bahwa kata sifat berakhiran い ini bisa membentuk jenis kalimat yang ketiga. Mari kita ambil contoh kosakata yang paling gampang: ペン (artinya pena) – ペンが赤い / あかい = pen is red.
Coba perhatikan, kita sama sekali tidak menaruh だ di akhir kalimat ini. Kenapa? Karena kata sifat い seperti あかい / 赤い (merah) itu tidak berdiri sendiri sebagai kata benda 'merah', melainkan sudah bermakna "berwarna merah" (is red). Fungsi だ (sebagai tanda sama dengan) sudah terpasang secara otomatis di dalam kata sifat い tersebut.

Nah, itulah tiga bentuk kalimat dasar dalam bahasa Jepang. Semuanya dimulai dengan subjek kalimat, semuanya dihubungkan oleh が, dan bisa diakhiri dengan tiga cara: dengan kata kerja (yang akan selalu berakhiran pola huruf う), dengan kopula だ, atau dengan akhiran い karena kata tersebut adalah kata sifat.
Selamat, sekarang kamu sudah mengetahui fondasi paling dasar dari tata bahasa Jepang!
